Risiko Global Warming Meningkat

BADAN Energi Internasional (IEA) memperkirakan peningkatan signifikan gas pemicu global warming (pemanasan global). IEA memprediksi, gas global warming akan meningkat 57% pada 2030 dan menyebabkan suhu bumi meningkat paling sedikit 3 derajat Celsius.

Dalam laporan tahunan,IEA menjelaskan, polusi gas penyebab global warming akan meningkat 1,8% per tahun mulai 2007 hingga 2030. IEA menilai, peningkatan polusi tersebut pada saat ini berkemungkinan kecil untuk dihindari karena tidak ada upaya berarti dari negara- negara di dunia.

“Pemangkasan emisi harus dilakukan dengan meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar fosil dalam industri, bangunan, dan transportasi. Penggunaan energi yang dapat diperbarui juga harus ditingkatkan dan CO2 (karbondioksida) harus ditangkap dan ditampung,” papar IEA.

Dalam penilaian IEA, negara- negara yang menyumbangkan polusi terbesar pada 2030 adalah China, AS, India, Rusia, dan Jepang. Apabila polusi terus meningkat, suhu Bumi semakin naik dan es-es di kutub semakin banyak mencair. Akibatnya, permukaan air laut naik sehingga wilayah-wilayah pesisir terancam tenggelam.

Di samping itu, pemanasan global juga meningkatkan risiko gelombang panas dan badai tropis. PBB menilai, pihak yang paling bertanggung jawab atas pemanasan global adalah negara- negara maju. Adapun pihak yang paling terancam risiko adalah negara-negara miskin. Karena itu, negara maju harus memberikan bantuan kepada negara miskin untuk menanggulangi dampak pemanasan global.

“Yang paling terancam adalah negara miskin. Ada fenomena ketidakadilan ekstrem dalam kasus pemanasan global,” tandas Kepala Program Pembangunan PBB (UNDP) Kemal Dervis. Dervis mengungkapkan, saat ini negara maju menyumbangkan sekitar 70% gas pemanasan global. Saat yang sama, negara berkembang menyumbangkan 28% dan negara miskin menyumbangkan hanya 2%.

Sejumlah negara miskin pada saat ini sudah terkena bencana banjir dan kekeringan akibat pemanasan global, tetapi negara-negara tersebut tidak memiliki biaya untuk melakukan penanggulangan perubahan iklim. Direktur Program Perubahan Iklim International Institute for Environment and Development Saleem Huq menegaskan, bantuan negara maju kepada negara miskin merupakan kewajiban, bukan amal karena penanggulangan polusi berbeda daripada penanggulangan kemiskinan.

Laporan American Chemical Society (ACS) bahkan mengungkap fakta lebih mencemaskan lagi.ACS menilai polusi udara yang disebabkan pembakaran mesin diesel kapal-kapal laut menyebabkan kematian belasan ribu orang di Eropa, Asia, dan AS pada setiap tahun. ACS memaparkan, polusi udara akibat kapal laut menyebabkan sekitar 60.000 orang yang tinggal di wilayah pesisir mengidap penyakit paru-paru dan jantung.

ACS memperkirakan, korban akan meningkat menjadi sekitar 82.000 orang pada 2012. Dalam penilaian ACS,orangorang yang paling terancam adalah mereka yang tinggal di wilayah pesisir Hong Kong, Shanghai, dan Shenzhen, karena 28% kapal dunia melintasi wilayah-wilayah tersebut.

ACS memperingatkan, kapal diesel menghasilkan polusi belerang hampir 2.000 kali lebih parah daripada truk diesel. Mesin diesel sendiri saat ini dinilai sebagai mesin yang menggunakan bahan bakar paling kotor. (AP/AFP/ahmad fauzi)

Dikutip dari: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/iptek-sains/risiko-global-warming-meningkat-2.html

One Response to “Risiko Global Warming Meningkat”

  1. hh… amazing )

Leave a Reply