Hargai Kuliah
Kuliah bisa juga diartikan dengan kata yang definisinya lebih membosankan yaitu “ceramah”. Mendengar kata “ceramah”, dalam benak saya tergambar situasi dimana saya duduk tenang sambil mendengarkan orang mengoceh. Setidaknya itulah yang saya rasakan saat ini di bangku kuliah.
Kuliah (yang dimaksud di sini proses belajar di universitas, PT, sekolah tinggi) identik dengan sesuatu yang mahal. Pada kenyataannya, memang tidak semua orang bisa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Banyak orang yang berkeinginan besar untuk kuliah tapi ada daya “kantong tak dalam” dan “dompet tak tebal”.
Berarti secara kasar, bisa diestimasi bahwa sebagian besar orang yang melanjutkan kuliah adalah orang atau anak dari orang yang berekonomi menengah ke atas (kecuali dapat beasiswa). Bukan bermaksud untuk menghina, tapi begitulah pendapat saya. Nah, permasalahan yang ingin saya bahas di sini adalah tingkat perhargaan orang terhadap kuliah.
Saat ini di kampus saya (di salah satu universitas di Jawa Tengah), muncul syndrome “PinginPulangCepat” (mungkin ada yang bisa memberikan nama yang lebih keren). Gejalanya: mata melirik sana-sini terutama keluar(kelas), kaki bergetar, badan panas, pingin ngobrol dengan orang di samping kiri dan kanan, hati gundah, intinya suspect yang terkena syndrome ini menjadi “gelisah tak menentu”. Jika Anda pernah merasakan gejala-gejala di atas ketika kuliah berarti Anda juga salah satu suspect penyakit ini. Saya juga!
Di tempat saya kuliah, sistem yang dipakai adalah trimester jadi dalam satu tahun ajaran ada 3 semester (per 4 bulan). Tiap trimester mahasiswa mendapatkan beban ambil maksimum yang dihitung berdasarkan jumlah SKS (Sistem Kredit Semester). Khusus di fakultas saya, 1 SKS sama dengan 1 jam dan harga 1 SKS Rp. 75.000 (angkatan saya). Jadi bisa dibayangkan uang yang terbuang jika kuliah yang harusnya 3 jam hanya berlangsung 2 jam. Masalah ini ibarat kita membeli sesuatu katakanlah “durian” paket, dengan harga Rp.225.000. Tapi pada saat mau diambil kita hanya tidak mengambil semua durian tersebut. Sebagian kita tinggalkan di warung. Rugi tidak? Yah, sudah pasti rugi. Perlu ditekankan ini bukan masalah baik hati atau tidak, tapi lebih kepada rugi dan tidak.
Lalu siapa yang salah? Mahasiswa atau dosen. Mari kita tinjau dari sisi dosen. Siapa yang tidak sakit hati saat Anda berbicara dan orang-orang tidak memperhatikan. Sakit hati kan! Begitulah yang kira-kira dirasakan oleh dosen yang bersemangat tinggi dalam mengajar tapi tidak dihiraukan oleh mahasiswa. Alhasil, mereka jadi tidak betah berlama-lama di kelas. Ada juga tipe dosen yang gigih! Kuliah 3 jam, ya 3 jam. Jenis ini sudah jarang ada
bahkan tidak ada di fakultas saya. Ada juga dosen yang memang “asal jadi”. Datang hanya memberi tugas, terus pulang. Tipe dosen inilah yang sangat disukai mahasiswa. Setidaknya di fakultas saya.
Sekarang dari sisi mahasiswa. Nampaknya disinilah titik kesalahannya. Mahasiswa yang betah berlama-lama di kelas hanya sekitar 2% dari total jumlah mahasiswa. Selebihnya mereka yang suka memasang tampang bosan jika kelas sudah berlangsung 1 jam.
Menurut saya, masalah ini bisa diatasi bersama baik dari sisi dosen dan mahasiswa maupun fakultas. Pertama dari sisi dosen:
Buatlah suasana kelas yang nyaman dan menarik!
Ubah metode belajar agar lebih interaktif!
Tegas!
Motivasi mengajar dievaluasi.
Dari sisi mahasiswa:
Sadarlah bahwa bangku kuliah adalah investasi masa depan!
Belajarlah menghargai biaya yang dikeluarkan!
Hargai dosen!
Dari sisi fakultas:
Cobalah alternatif membagi kelas. Contohnya, kuliah 3 jam dibagi ke dalam dua pertemuan untuk mencegah kebosanan mahasiswa di kelas!
Mungkin ada pembaca yang ingin memberi saran, silahkan berikan komentar!!
Majulah pendidikan Indonesia!
November 22, 2007 at 7:46 pm
setubuh….eh setujuuuuuu
December 5, 2007 at 6:35 am
JT: Sangat disayangkan, sangat sedikit mahasiswa FTI yang menghargai kuliah. Kiat bapak dosen sendiri gimana?
December 6, 2007 at 2:06 am
Mungkin kalo metode dan isi materi kuliahnya diupdate, bisa membantu. Seperti yg kami lakukan di Teknik Industri UGM.
http://budihartono.wordpress.com/2007/12/04/engineering-boring-think-again/
wassalam
b oe d
March 5, 2008 at 1:18 pm
Suspected !!! Saya mengalami gejala2 syndrome yang anda sebutkan dan saya rasa sudah sampai pada tahap stadium akhir T_T helep…
March 7, 2008 at 3:25 am
Marchel@ Wah gawat bro..segera periksakan diri Anda di dosen-dosen terdekat!!!!
September 26, 2009 at 11:36 am
Biasanya baru menyadari setelah kita lulus dan sering ditanya, “Sudah bekerja di perusahaan apa?” hehehe