Archive for November, 2007

“…Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Markus 9:24)

Posted in Religion on November 24, 2007 by infrontofcompie

Tidak seorang pun di dunia ini yang dapat secara langsung melihat partikel O2 yang terkandung dalam udara yang kita hirup sehari-hari. Tetapi udara dapat kita rasakan disaat angin berhembus menyapu kulit. Begitu pula dengan Tuhan.

Mari kita tinjau secara ilmiah! Dr. Francis Crikc adalah seorang penemu DNA dan dengan penemuan tersebut ia mendapatkan Nobel. Struktur double-helix tersebut menyimpan informasi genetik dengan struktur molekul yang sangat rumit. Apakah DNA muncul tiba-tiba? Para ilmuwan yang atheis percaya bahwa segala sesuatu bisa terjadi jika ada waktu. Dr. Crick lalu melakukan penelitian terhadap DNA dengan menyertakan variabel-variabel yang mendukung. Ternyata ia menemukan bahwa molekul DNA bisa terbentuk jika berevolusi selama 4,5 miliar tahun. Dan, umur bumi menurut kalkulasi, juga ±4,5 miliar tahun. Berarti, molekul DNA yang ada pada manusia saat ini, bisa terbentuk setelah melewati jangka waktu 4,5 miliar tahun – Itu baru MOLEKUL. Bagaimana DNA tersusun menjadi tubuh manusia yang sempurna pasti lain lagi ceritanya. Sangat tidak mungkin tiba-tiba dalam jangka waktu beberapa hari DNA bisa langsung tersusun menjadi individu yang sempurna. Berarti ada sebuah kekuatan lain yang tak terbatas yang menyebabkan hal ini terjadi.

 

Memang manusia lebih mempercayai sesuatu yang dilihat secara langsung. Tetapi apakah lebihnya jika semua orang pun dapat berbuat hal yang sama. Mempercayai apa yang tidak kita lihat adalah bukti iman kita. Kita tidak dapat melihat kehadiran-Nya, tetapi kita dapat merasakannya. Hidup kita yang penuh dengan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri merupakan tanda-tanda kehadiran Yesus dalam hidup kita. Keraguan memang sering mengisi hati kita, tetapi jangan sampai menguasai kita. Ketika kita mulai ragu ucapkanlah “..Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”.

PILIH MANA KUANTITAS ATAU KUALITAS

Posted in College on November 24, 2007 by infrontofcompie

Kuantitas secara sederhana dapat diartikan sebagai bobot, massa, atau jumlah. Sedangkan kualitas bisa dipandang sebagai mutu, nilai ke’bagus’an. Kualitas bisa diukur secara langsung dengan penglihatan misalnya daging ayam yang baik berwarna kemerah-merahan atau seorang sprinter yang pernah memenangkan medali emas olimpiade. Kualitas kedua hal di atas dapat kita nilai dari penglihatan, anggapan, juga pemahaman kita baik yang terbentuk secara sendiri atau pemahaman yang ditanamkan oleh orang lain.

 

            Jika Anda disuruh memilih, apa yang akan Anda pilih? Bagaimana kedua hal ini jika kita hubungkan dengan dunia pendidikan?

 

            Kasus ini saya temukan sendiri di universitas dan fakultas saya, FTI-UKSW. FTI sendiri merupakan fakultas yang baru berdiri pada tahun 2003, dan sekarang masuk dalam jajaran tiga besar fakultas dengan mahasiswa terbanyak (tepatnya saya tidak tahu). Mungkin hal ini dipicu karena kebutuhan IT sangat diperlukan saat ini. Sebagai suatu lembaga pendidikan di bawah universitas, FTI bertanggungjawab atas penyelenggaraan pendidikan. Yang bagaimana? Tentu yang BERKUALITAS! Jadi apakah selama ini FTI tidak mengadakan pendidikan yang berkualitas? Tidak sepenuhnya begitu. Pelaksanaan pendidikan juga dipengaruhi oleh partisipasi aktif mahasiswa (lihat Hargai Kuliah).

 

Yang menjadi masalah adalah rasio jumlah mahasiswa FTI dengan jumlah pengajar. Rasio yang menurut saya terlalu jauh itu, berdampak buruk bagi pelaksanaan kegiatan belajar.

 

Fakultas yang jumlah mahasiswanya berlimpah, dipandang sebagai fakultas favorit. Saya kagum dengan usaha FTI untuk menarik minat calon mahasiswa. Tetapi usaha ini harus dan mutlak dibarengi dengan peningkatan kualitas pengajar berikut fasilitas pendukungnya.

 

            Dampak yang saya rasakan ketika jumlah mahasiswa bertambah:

  1. Kelas yang dibuka semakin banyak, pengajar harus bekerja ekstra.
  2. Jadual pemakaian lab. semakin padat.
  3. Padatnya jadual pemakaian lab. menurunkan waktu perawatan komputer
  4. Jadual pemakaian lab. yang padat menyebabkan pengaturan lab. semrawut.
  5. Banyak kelas yang kosong karena dosennya tidak datang, mungkin lagi ikut promosi.
  6. Mahasiswa yang jadualnya tabrakan, seakan-akan dibiarkan.

 

Enam hal di atas merupakan sebagian kecil dari banyak hal yang saya rasakan sebagai korban ‘kapitalisme’ fakultas. Kenapa jumlah mahasiswa tidak dibatasi saja. Satu angkatan minimal seratus orang, rasanya cukup. Dengan mereduksi jumlah mahasiswa per angkatan fokus pengajar semakin tinggi sehingga, kualitas bisa ditingkatkan. Kualitas bisa menjadi alat promosi nir-‘duit’ bagi fakultas. Dengan adanya pembatasan jumlah mahasiswa yang tegas dan kualitas pendidikan yang tinggi, fakultas bisa menjalankan hakikatnya dalam dunia pendidikan secara jelas. Dengan adanya pembatasan jumlah penerimaan, calon mahasiswa akan lebih tertantang untuk bersaing masuk.

 

            Banyaknya mahasiswa tidak menjadi tolok ukur baiknya suatu fakultas atau universitas. Yang menjadi tolok ukur utama adalah kualitas output. FTI-UKSW bertanggungjawab besar terhadap angkatan kerja yang nantinya akan diutus ke dunia nyata. FTI-UKSW bertanggungjawab menjaga nama baik UKSW di masyarakat. Jangan sampai lulusan FTI dipermalukan di masyarakat.

 

            Sepiring sayur saja sudah cukup asal dimakan dengan sukacita. Sedikit mahasiswa saja sudah cukup asal diajar dengan sukacita. Jadi pilih mana, kualitas atau kuantitas?

Risiko Global Warming Meningkat

Posted in Nature on November 16, 2007 by infrontofcompie

BADAN Energi Internasional (IEA) memperkirakan peningkatan signifikan gas pemicu global warming (pemanasan global). IEA memprediksi, gas global warming akan meningkat 57% pada 2030 dan menyebabkan suhu bumi meningkat paling sedikit 3 derajat Celsius.

Dalam laporan tahunan,IEA menjelaskan, polusi gas penyebab global warming akan meningkat 1,8% per tahun mulai 2007 hingga 2030. IEA menilai, peningkatan polusi tersebut pada saat ini berkemungkinan kecil untuk dihindari karena tidak ada upaya berarti dari negara- negara di dunia.

“Pemangkasan emisi harus dilakukan dengan meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar fosil dalam industri, bangunan, dan transportasi. Penggunaan energi yang dapat diperbarui juga harus ditingkatkan dan CO2 (karbondioksida) harus ditangkap dan ditampung,” papar IEA.

Dalam penilaian IEA, negara- negara yang menyumbangkan polusi terbesar pada 2030 adalah China, AS, India, Rusia, dan Jepang. Apabila polusi terus meningkat, suhu Bumi semakin naik dan es-es di kutub semakin banyak mencair. Akibatnya, permukaan air laut naik sehingga wilayah-wilayah pesisir terancam tenggelam.

Di samping itu, pemanasan global juga meningkatkan risiko gelombang panas dan badai tropis. PBB menilai, pihak yang paling bertanggung jawab atas pemanasan global adalah negara- negara maju. Adapun pihak yang paling terancam risiko adalah negara-negara miskin. Karena itu, negara maju harus memberikan bantuan kepada negara miskin untuk menanggulangi dampak pemanasan global.

“Yang paling terancam adalah negara miskin. Ada fenomena ketidakadilan ekstrem dalam kasus pemanasan global,” tandas Kepala Program Pembangunan PBB (UNDP) Kemal Dervis. Dervis mengungkapkan, saat ini negara maju menyumbangkan sekitar 70% gas pemanasan global. Saat yang sama, negara berkembang menyumbangkan 28% dan negara miskin menyumbangkan hanya 2%.

Sejumlah negara miskin pada saat ini sudah terkena bencana banjir dan kekeringan akibat pemanasan global, tetapi negara-negara tersebut tidak memiliki biaya untuk melakukan penanggulangan perubahan iklim. Direktur Program Perubahan Iklim International Institute for Environment and Development Saleem Huq menegaskan, bantuan negara maju kepada negara miskin merupakan kewajiban, bukan amal karena penanggulangan polusi berbeda daripada penanggulangan kemiskinan.

Laporan American Chemical Society (ACS) bahkan mengungkap fakta lebih mencemaskan lagi.ACS menilai polusi udara yang disebabkan pembakaran mesin diesel kapal-kapal laut menyebabkan kematian belasan ribu orang di Eropa, Asia, dan AS pada setiap tahun. ACS memaparkan, polusi udara akibat kapal laut menyebabkan sekitar 60.000 orang yang tinggal di wilayah pesisir mengidap penyakit paru-paru dan jantung.

ACS memperkirakan, korban akan meningkat menjadi sekitar 82.000 orang pada 2012. Dalam penilaian ACS,orangorang yang paling terancam adalah mereka yang tinggal di wilayah pesisir Hong Kong, Shanghai, dan Shenzhen, karena 28% kapal dunia melintasi wilayah-wilayah tersebut.

ACS memperingatkan, kapal diesel menghasilkan polusi belerang hampir 2.000 kali lebih parah daripada truk diesel. Mesin diesel sendiri saat ini dinilai sebagai mesin yang menggunakan bahan bakar paling kotor. (AP/AFP/ahmad fauzi)

Dikutip dari: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/iptek-sains/risiko-global-warming-meningkat-2.html

Titik Balik…

Posted in Story with tags , , , , , on November 15, 2007 by infrontofcompie

Dua minggu lalu saya dan teman saya (jollKy) iseng-iseng ikut lomba APC (Algorithm Programming Competition) yang diselenggarakan oleh FTI UKSW dalam rangkaian acara Pimnas FTI. Mungkin karena hanya iseng, sampai-sampai Rp. 100 ribu (uang pendaftaran) melayang (tidak) sia-sia (kok bisa??).

Para peserta yang ikut pada jago-jago. Ada yang dari STT Telkom Bandung, STT Surabaya, UNIKA Semarang, dan tentunya UKSW. Sebagai tuan rumah saya merasa malu karena tidak tampil maksimal. (–,). Sebenarnya soal yang diujikan tidak sulit..hanya saja otak saya tidak terbiasa berpikir cepat (otak saya mesinnya blm di upgrade). Alhasil……….kami berada pada posisi ke-5 dari 8 peserta.

Moga-moga aja kejadian tragis ini bisa menjadi titik balik buat saya agar mau lebih serius belajar….karena saya sadar, saya belum ada apa-apanya di dunia ini. Saya harus jadi SOMEBODY!!! Kalau bener2 moment ini jadi titik balik…berarti duit kita gak terbuang percuma donk……

Finally, Selamat kepada para pemenang…..salute!!!!! Mungkin kita bisa bertemu lagi…..

 

Btw…..Leng…qt msh ba utang pa ngana kang!!!!

Hargai Kuliah

Posted in College with tags , , , , , , , , , , , , , on November 13, 2007 by infrontofcompie

Kuliah bisa juga diartikan dengan kata yang definisinya lebih membosankan yaitu “ceramah”. Mendengar kata “ceramah”, dalam benak saya tergambar situasi dimana saya duduk tenang sambil mendengarkan orang mengoceh. Setidaknya itulah yang saya rasakan saat ini di bangku kuliah.

 

Kuliah (yang dimaksud di sini proses belajar di universitas, PT, sekolah tinggi) identik dengan sesuatu yang mahal. Pada kenyataannya, memang tidak semua orang bisa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Banyak orang yang berkeinginan besar untuk kuliah tapi ada daya “kantong tak dalam” dan “dompet tak tebal”.

 

Berarti secara kasar, bisa diestimasi bahwa sebagian besar orang yang melanjutkan kuliah adalah orang atau anak dari orang yang berekonomi menengah ke atas (kecuali dapat beasiswa). Bukan bermaksud untuk menghina, tapi begitulah pendapat saya. Nah, permasalahan yang ingin saya bahas di sini adalah tingkat perhargaan orang terhadap kuliah.

 

Saat ini di kampus saya (di salah satu universitas di Jawa Tengah), muncul syndrome “PinginPulangCepat” (mungkin ada yang bisa memberikan nama yang lebih keren). Gejalanya: mata melirik sana-sini terutama keluar(kelas), kaki bergetar, badan panas, pingin ngobrol dengan orang di samping kiri dan kanan, hati gundah, intinya suspect yang terkena syndrome ini menjadi “gelisah tak menentu”. Jika Anda pernah merasakan gejala-gejala di atas ketika kuliah berarti Anda juga salah satu suspect penyakit ini. Saya juga!

 

Di tempat saya kuliah, sistem yang dipakai adalah trimester jadi dalam satu tahun ajaran ada 3 semester (per 4 bulan). Tiap trimester mahasiswa mendapatkan beban ambil maksimum yang dihitung berdasarkan jumlah SKS (Sistem Kredit Semester). Khusus di fakultas saya, 1 SKS sama dengan 1 jam dan harga 1 SKS Rp. 75.000 (angkatan saya). Jadi bisa dibayangkan uang yang terbuang jika kuliah yang harusnya 3 jam hanya berlangsung 2 jam. Masalah ini ibarat kita membeli sesuatu katakanlah “durian” paket, dengan harga Rp.225.000. Tapi pada saat mau diambil kita hanya tidak mengambil semua durian tersebut. Sebagian kita tinggalkan di warung. Rugi tidak? Yah, sudah pasti rugi. Perlu ditekankan ini bukan masalah baik hati atau tidak, tapi lebih kepada rugi dan tidak.

 

Lalu siapa yang salah? Mahasiswa atau dosen. Mari kita tinjau dari sisi dosen. Siapa yang tidak sakit hati saat Anda berbicara dan orang-orang tidak memperhatikan. Sakit hati kan! Begitulah yang kira-kira dirasakan oleh dosen yang bersemangat tinggi dalam mengajar tapi tidak dihiraukan oleh mahasiswa. Alhasil, mereka jadi tidak betah berlama-lama di kelas. Ada juga tipe dosen yang gigih! Kuliah 3 jam, ya 3 jam. Jenis ini sudah jarang ada

bahkan tidak ada di fakultas saya. Ada juga dosen yang memang “asal jadi”. Datang hanya memberi tugas, terus pulang. Tipe dosen inilah yang sangat disukai mahasiswa. Setidaknya di fakultas saya.

 

Sekarang dari sisi mahasiswa. Nampaknya disinilah titik kesalahannya. Mahasiswa yang betah berlama-lama di kelas hanya sekitar 2% dari total jumlah mahasiswa. Selebihnya mereka yang suka memasang tampang bosan jika kelas sudah berlangsung 1 jam.

 

Menurut saya, masalah ini bisa diatasi bersama baik dari sisi dosen dan mahasiswa maupun fakultas. Pertama dari sisi dosen:

 

Buatlah suasana kelas yang nyaman dan menarik!

Ubah metode belajar agar lebih interaktif!

Tegas!

Motivasi mengajar dievaluasi.

 

Dari sisi mahasiswa:

Sadarlah bahwa bangku kuliah adalah investasi masa depan!

Belajarlah menghargai biaya yang dikeluarkan!

Hargai dosen!

 

Dari sisi fakultas:

Cobalah alternatif membagi kelas. Contohnya, kuliah 3 jam dibagi ke dalam dua pertemuan untuk mencegah kebosanan mahasiswa di kelas!

 

Mungkin ada pembaca yang ingin memberi saran, silahkan berikan komentar!!

 

Majulah pendidikan Indonesia!